Jakarta — Ketua Gerakan Pemuda Keadilan, Andika Febri Pratama, angkat bicara terkait beredarnya sejumlah narasi di media sosial yang menyeret nama Zulkifli Hasan. Ia menegaskan bahwa informasi yang beredar tersebut merupakan 100 persen hoaks dan tidak memiliki dasar yang jelas.
Menurut Andika, narasi yang menyebut Zulkifli Hasan pernah mengatakan “tugas rakyat hanya satu yaitu bayar pajak” merupakan bentuk informasi menyesatkan yang sengaja dibangun untuk menggiring opini publik secara negatif.
Unggahan itu diketahui beredar melalui akun Instagram @panglimarakyatkonoha, yang menampilkan kutipan tanpa penjelasan utuh. Dalam postingan tersebut juga muncul kalimat lain yang mengatasnamakan Zulkifli Hasan, yakni “rakyat terlalu banyak mengkritik, tapi isinya kosong, rakyat itu aib bagi pemerintah.”
Andika menilai pola penyebaran informasi semacam itu bukan hanya mencederai etika bermedia sosial, tetapi juga berpotensi memancing keresahan di tengah masyarakat apabila terus dibiarkan.
“Setelah kami telusuri, narasi yang beredar itu sama sekali tidak benar. Ini 100 persen hoaks dan sangat berbahaya karena bisa membentuk persepsi yang salah di masyarakat,” kata Andika dalam keterangannya.
Ia menyebut, penyebaran potongan pernyataan tanpa sumber yang valid sering kali digunakan untuk membangun sentimen negatif terhadap tokoh publik, terutama menjelang momentum politik maupun isu-isu nasional tertentu.
Karena itu, Andika meminta masyarakat untuk tidak langsung mempercayai informasi yang beredar di media sosial tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu terhadap sumber aslinya.
“Media sosial hari ini sering dijadikan alat untuk menyebarkan narasi yang dipelintir. Masyarakat harus lebih cerdas agar tidak ikut terprovokasi oleh informasi yang belum tentu benar,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa penyebaran fitnah semacam ini dapat merusak ruang demokrasi dan mengganggu keharmonisan sosial apabila tidak disikapi dengan kedewasaan bersama.
“Kita jangan memberi ruang bagi pihak-pihak yang sengaja menebar fitnah demi menciptakan kegaduhan. Persatuan bangsa harus tetap dijaga di tengah derasnya arus informasi digital,” tegas Andika.





