KKN Kelompok 56 Dorong Pengembangan UMKM Kerajinan Anyaman Bambu di Desa Kemang Tanduk

Prabumulih – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 56 turut mendorong pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kerajinan anyaman bambu di Desa Kemang Tanduk, Kecamatan Rambang Kapak Tengah, Kota Prabumulih, Sumatera Selatan.

Kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk perhatian mahasiswa KKN terhadap potensi ekonomi masyarakat desa, khususnya kerajinan tradisional yang memanfaatkan bahan baku bambu. Berbagai produk anyaman bambu dapat ditemukan di lokasi UMKM, mulai dari keranjang, wadah penyimpanan, tempat makanan, hingga berbagai produk kerajinan dengan bentuk dan motif yang beragam.

Kerajinan anyaman bambu tersebut tidak hanya memiliki nilai guna, tetapi juga memiliki nilai ekonomi dan menjadi bagian dari keterampilan masyarakat yang perlu terus dikembangkan. Produk-produk yang dihasilkan menunjukkan kreativitas dan ketelitian para pengrajin dalam mengolah bambu menjadi berbagai kebutuhan rumah tangga maupun kerajinan bernilai jual.

Ketua KKN Kelompok 56, Mahardika, mengatakan bahwa keberadaan UMKM kerajinan anyaman bambu di Desa Kemang Tanduk merupakan salah satu potensi ekonomi masyarakat yang memiliki peluang untuk terus dikembangkan.

“Menurut kami, kerajinan anyaman bambu ini memiliki potensi yang sangat baik. Selain mempertahankan keterampilan dan kerajinan tradisional masyarakat, produk yang dihasilkan juga mempunyai nilai ekonomi yang dapat membantu meningkatkan pendapatan masyarakat,” ujar Mahardika.

Mahardika menambahkan, pengembangan UMKM tidak hanya bergantung pada proses produksi, tetapi juga perlu didukung dengan pengemasan, pemasaran, serta pemanfaatan media digital agar produk kerajinan masyarakat dapat dikenal lebih luas.

Sementara itu, Sekretaris KKN Kelompok 56, Dhea Stefany, menyampaikan bahwa kerajinan anyaman bambu menjadi salah satu potensi lokal yang menarik untuk diperkenalkan kepada masyarakat yang lebih luas.

“Produk anyaman bambu yang dihasilkan masyarakat memiliki keunikan tersendiri. Kami berharap kerajinan ini dapat terus dilestarikan sekaligus dikembangkan agar mampu memiliki daya saing dan menjangkau pasar yang lebih luas,” kata Dhea.

Menurut Dhea, perkembangan teknologi dan media sosial dapat dimanfaatkan oleh pelaku UMKM untuk memperkenalkan produk mereka. Dengan promosi yang lebih kreatif, produk anyaman bambu dari Desa Kemang Tanduk diharapkan tidak hanya dikenal di lingkungan sekitar, tetapi juga dapat menarik minat konsumen dari luar daerah.

Melalui keberadaan UMKM kerajinan anyaman bambu tersebut, KKN Kelompok 56 berharap potensi lokal Desa Kemang Tanduk dapat terus berkembang. Selain memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat, keberadaan kerajinan ini juga diharapkan mampu menjaga keberlangsungan keterampilan menganyam bambu sebagai salah satu potensi dan identitas masyarakat desa.

KKN Kelompok 56 juga mendorong agar pelaku UMKM terus berinovasi dalam menciptakan produk, meningkatkan kualitas, serta memperluas pemasaran sehingga kerajinan anyaman bambu dapat menjadi salah satu produk unggulan Desa Kemang Tanduk.

Related posts