Ogan Ilir Dalam Kegelisahan Rausyanfikr

banner 468x60
Penulis : Muhammad Nur Hidayat (Aktivis Ogan Ilir-Jakarta)

Jakarta – Di momentum Hari Sumpah Pemuda ini, sudah sepatutnya kita saling mengingatkan tentang makna menjadi seorang pemuda jangan sampai kita kehilangan nilai, semangat, dan keberanian yang semestinya melekat dalam diri generasi muda.

Kontribusi pemuda dalam membangun peradaban telah diakui sepanjang sejarah dunia. Pemuda adalah lokomotif sejarah, penggerak perubahan, sekaligus penjaga cita-cita bangsa. Tanpa keterlibatan pemuda dalam memperjuangkan kemerdekaan dan mengawal cita-cita para pendiri bangsa, sulit membayangkan Indonesia dapat lahir dan tumbuh hingga hari ini.

Read More
banner 300x250

Lantas, siapakah pemuda itu?

Dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan, Pasal 1 angka 1, pemuda didefinisikan sebagai warga negara Indonesia yang memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan, dengan rentang usia 16 hingga 30 tahun.

Lebih jauh, Pasal 19 undang-undang tersebut menegaskan bahwa pemuda memiliki peran aktif sebagai kekuatan moral, kontrol sosial, dan agen perubahan dalam segala aspek pembangunan nasional. Artinya, pemuda bukan sekadar kelompok masyarakat yang berada dalam usia produktif. Pemuda memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga arah pembangunan, mengawasi jalannya pemerintahan, menyuarakan kepentingan masyarakat, serta memastikan kekuasaan dijalankan demi kepentingan rakyat, bukan kepentingan segelintir orang. Sebab, ketika pemuda kehilangan daya kritisnya, kekuasaan berpotensi berjalan tanpa pengawasan. Dan ketika kaum terdidik memilih diam di tengah persoalan, cita-cita keadilan dapat perlahan kehilangan maknanya. Membawa Semangat Perubahan Kembali ke Ogan Ilir Kini, mari kita tarik refleksi ini ke tingkat daerah.

Saya, Muhammad Nur Hidayat, seorang pemuda asli Sumatera Selatan, tepatnya Kabupaten Ogan Ilir, selama menempuh pendidikan dan berproses di Jakarta serta Banten, telah beberapa kali terlibat dalam gerakan demonstrasi untuk menyampaikan aspirasi masyarakat. Dari berbagai pergulatan tersebut, saya belajar bahwa keberanian menyuarakan kebenaran bukan hanya tentang berdiri di jalanan, melainkan juga tentang kesediaan memperjuangkan perubahan yang nyata.

Namun, di momentum Sumpah Pemuda hari ini, ada satu pertanyaan yang perlu kita ajukan kepada diri sendiri: sudahkah kita memberikan perhatian yang cukup terhadap persoalan di daerah kita sendiri?

Sebab, perjuangan tidak boleh berhenti ketika kita meninggalkan daerah untuk menempuh pendidikan, membangun jaringan, atau memperluas pengalaman. Justru, semua proses itu semestinya menjadi bekal untuk kembali melihat, memahami, dan memperjuangkan kebutuhan masyarakat di tanah kelahiran kita.

Kabupaten Ogan Ilir yang kini memasuki usia ke-22 tahun seharusnya menjadi ruang refleksi bersama. Jika usia sebuah daerah kita ibaratkan sebagai usia manusia, tentu kita berharap daerah ini semakin matang dalam menentukan arah pembangunan, semakin kuat dalam membangun tata kelola pemerintahan, dan semakin nyata dalam menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakatnya.

Akan tetapi, kematangan sebuah daerah tidak cukup diukur dari bertambahnya usia. Ia harus diukur dari kualitas kepemimpinan, pemerataan pembangunan, terbukanya kesempatan bagi masyarakat, serta sejauh mana kebijakan pemerintah benar-benar menjawab kebutuhan rakyat.

Salah satu hal yang patut menjadi perhatian kita bersama adalah dinamika politik daerah, terutama mengenai regenerasi kepemimpinan dan terbukanya kesempatan bagi putra-putri terbaik Ogan Ilir untuk mengambil bagian dalam menentukan masa depan daerahnya.

Kekhawatiran muncul ketika ruang kepemimpinan terkesan hanya berputar di lingkaran keluarga atau kelompok tertentu. Kondisi semacam ini perlu menjadi bahan evaluasi dan diskusi publik yang sehat. Sebab, demokrasi seharusnya membuka kesempatan yang setara bagi setiap warga negara untuk berpartisipasi, berkompetisi secara sehat, dan memperoleh kepercayaan masyarakat berdasarkan kapasitas, integritas, serta rekam jejaknya.

Sebagai pemuda asli Ogan Ilir, saya terkadang bertanya-tanya: bagaimana generasi muda dapat mengambil peran lebih besar dalam membangun daerah apabila ruang partisipasi dan regenerasi kepemimpinan terasa begitu terbatas?

Padahal, Ogan Ilir tidak kekurangan anak muda yang memiliki semangat, gagasan, dan keinginan untuk berkontribusi. Yang perlu terus kita bangun adalah kesadaran kolektif, keberanian untuk terlibat, serta ruang demokrasi yang memberi kesempatan kepada siapa pun yang memiliki kapasitas dan komitmen untuk mengabdi.

2029: Momentum Menentukan Arah Ogan Ilir

Lantas, apakah kita harus diam?

Saya rasa tidak, kawan-kawan.

Tahun 2029 harus kita pandang sebagai momentum penting untuk memperkuat kesadaran politik masyarakat dan mendorong perubahan arah pembangunan Ogan Ilir. Bukan semata-mata tentang pergantian figur atau perebutan kekuasaan, melainkan tentang bagaimana kita memastikan bahwa kepemimpinan daerah benar-benar berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.

Ogan Ilir membutuhkan pemimpin yang memiliki jiwa ksatria, keberanian mengambil keputusan yang berpihak pada kepentingan publik, integritas dalam menjalankan amanah, serta kebesaran hati untuk mendengarkan kritik. Pemimpin yang tidak hanya memikirkan kepentingan kelompoknya, tetapi juga mampu melihat persoalan masyarakat secara luas dan bekerja untuk kepentingan banyak orang.

Namun, perubahan tidak boleh hanya dibebankan kepada siapa pun yang kelak memimpin. Pemuda juga harus mempersiapkan diri. Kita perlu memperkuat kapasitas intelektual, membangun jaringan, memahami persoalan daerah, mengawal kebijakan publik, serta menghadirkan gagasan dan solusi yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Revolusi yang saya maksud bukanlah perubahan tanpa arah, apalagi tindakan yang mengabaikan aturan. Revolusi itu adalah perubahan cara berpikir, keberanian mengoreksi keadaan, pembaruan budaya politik, dan perjuangan demokratis untuk menghadirkan kepemimpinan yang lebih baik.

Saya percaya, kesadaran besar tidak selalu lahir dari langkah yang besar. Ia dapat dimulai dari percakapan kecil, tulisan, diskusi, gerakan sosial, hingga keberanian menyampaikan kritik yang disertai data dan solusi.

Karena itu, saya akan terus berupaya menumbuhkan kesadaran tersebut, sedikit demi sedikit, dengan keyakinan bahwa Ogan Ilir berhak memiliki masa depan yang lebih baik. Saya tidak ingin semangat perjuangan yang tumbuh selama berada di luar daerah berhenti menjadi pengalaman pribadi. Saya ingin semangat itu menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk membangun tanah kelahiran.

Pada akhirnya, Sumpah Pemuda bukan sekadar peringatan tentang sejarah yang telah berlalu. Ia adalah pengingat bahwa masa depan bangsa dan daerah berada di tangan generasi yang berani mengambil tanggung jawab.

Jangan sampai kita begitu lantang berbicara tentang perubahan Indonesia, tetapi kehilangan keberanian ketika dihadapkan pada persoalan di daerah sendiri.

Sebab, mencintai Indonesia juga berarti berani peduli terhadap Ogan Ilir. Dan menjadi pemuda bukan hanya tentang usia, melainkan tentang keberanian mengambil sikap, menjaga integritas, serta memastikan bahwa kehadiran kita membawa manfaat bagi sesama. Ogan Ilir tidak hanya membutuhkan pemuda yang bangga terhadap tanah kelahirannya, tetapi juga pemuda yang bersedia berpikir, bergerak, dan bertanggung jawab atas masa depannya.

Maka dari itu, jadilah pemuda sebagaimana yang digambarkan oleh Ali Syari’ati melalui gagasan rausyanfikr , yakni sosok intelektual tercerahkan yang tidak hanya mampu memahami realitas sosial, tetapi juga memiliki keberanian untuk membangkitkan kesadaran dan memimpin masyarakat menuju perubahan.
Pemuda tidak cukup hanya menjadi penonton sejarah, apalagi sekadar menjadi pengkritik tanpa menawarkan jalan keluar. Pemuda harus mampu membaca keadaan, membongkar kebuntuan berpikir, serta menghadirkan gagasan yang membebaskan masyarakat dari ketidakadilan dan ketertinggalan. Sebab, revolusi yang sesungguhnya tidak selalu dimulai dari perebutan kekuasaan, melainkan dari revolusi kesadaran yang mengubah cara manusia berpikir, bersikap, dan menentukan masa depannya.

Selamat Hari Sumpah Pemuda. Saatnya pemuda Ogan Ilir bangkit, bersatu, dan mengambil peran dalam menentukan arah perubahan.

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *